Categories: Warisan

Pembagian Harta Warisan Di Indonesia Dan Cara Hitungnya

Pembagian harta warisan sungguh dikehendaki dikala pasangan, anggota keluarga, atau sanak kerabat yang masih punya hubungan erat dengan kita meninggal dunia. Sayangnya pembagian harta warisan ini masih kerap dianggap tabu oleh banyak orang.

Tak sedikit pula yang menilai pembagian harta warisan hal sensitif yang tidak dapat dibicarakan sembarangan. Namun, suka membenci yang namanya pembagian harta peninggalan itu justru semestinya dijadwalkan jauh-jauh hari mudah-mudahan di masa mendatang tak terjadi pertentangan sesama anggota keluarga.

Meski menyadari pentingnya merencanakan hal tersebut, nggak sedikit orang yang resah dikala dihadapkan pertanyaan perihal cara menjumlah warisan dan pembagiannya. Padahal, perkiraan sungguh dikehendaki mudah-mudahan semua jago waris merasa diperlakukan adil.

Itulah kenapa tempatpinjamuang kali ini mau mengajak kau membahas cara menjumlah warisan dan syarat pembagian harta warisan. Mulai dari apa itu warisan, aturan warisan, sampai cara hitung pembagian harta warisan. Yuk, simak!

Bacaan

Pembagian harta warisan di Indonesia

Di Indonesia kata warisan merupakan hal yang lazim didengar. Namun, menurut asalnya, perumpamaan warisan merupakan serapan dari bahasa Arab, yakni waritsa-yaritsu-irtsan-miiraatsan.

Bahasa Arab tersebut kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memaknai warisan selaku berpindahnya sesuatu dari seseorang terhadap orang lain. Dengan kata lain, warisan yakni segala sesuatu yang dialihkan kepemilikannya, semisal harta pusaka.

Lebih singkatnya lagi, warisan bisa disebut juga selaku peninggalan. Nah, harta yang bisa menjadi warisan itu terbagi dalam dua jenis, yakni harta tidak bergerak dan harta bergerak.

Apa saja yang masuk harta tidak bergerak, dan mana saja yang merupakan harta bergerak? Itu semua dikontrol dalam aturan perdata yang berlaku di Indonesia.

Menurut aturan perdata di Indonesia, harta tidak bergerak termasuk tanah dengan segala yang menempel di atasnya, pabrik atau perusahaan serta produk-produk yang dihasilkan, dan hak pakai semisal hak usaha.

Sementara harta bergerak menurut aturan perdata di Indonesia termasuk binatang ternak, perabotan, kendaraan, hak pakai atas benda-benda bergerak, hak atas kembang-kembang yang diperjanjikan, penagihan atau piutang, sampai saham.

Cara hitung pembagian harta warisan

Hukum waris di Indonesia mengendalikan wacana cara hitung dan pembagian harta warisan yang merujuk terhadap ketentuan yang tertulis di Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Perihal pengertiannya secara mendasar, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 Pasal 171 menyatakan bahwa:

Hukum waris yakni aturan yang mengendalikan wacana pemindahan hak pemilikan atas harta peninggalan pewaris kemudian menegaskan siapa-siapa yang berhak menjadi jago waris dan menegaskan berapa belahan masing-masing.

Agar bisa menjumlah pembagian harta warisan secara adil, hal pertama yang mesti kau laksanakan yakni menghimpun data kekayaan higienis apalagi dahulu. Kekayaan higienis yang dimaksud ialah, seluruh aset yang dimiliki dan sudah dikurangi dengan utang atau kewajiban-kewajiban lain yang belum lunas.

Nah, nilai kekayaan higienis inilah yang nantinya akan dibagi secara merata dan adil sesuai aturan waris yang berlaku.

Hukum waris yang berlaku di Indonesia

Ada beberapa aturan waris di Indonesia yang menjadi pedoman dalam pembagian harta warisan. Mulai dari aturan waris agama, aturan waris Kitab Undang-undang Hukum Perdata atau KUH Perdata, sampai aturan waris adat.

Lalu, apa bedanya ketiga aturan tersebut dan bagaimana cara hitung pembagian harta warisannya? Berikut ulasannya.

Hukum waris agama Islam

Pembagian harta peninggalan menurut aturan agama Islam didasarkan pada Alquran. Tepatnya diterangkan dalam surat An-Nisa ayat 11 – 12. Selain itu, Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991 wacana Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam juga menguatkan aturan perihal cara hitung dan syarat pembagian harta warisan menurut agama Islam.

Isi Instruksi Presiden yang menjadi salah satu pola aturan waris agama Islam tersebut mengelompokkan anggota keluarga yang berhak menjadi jago waris menurut hubungan darah selaku berikut.

Ahli waris dari golongan laki-laki

  • Kakek
  • Ayah
  • Anak laki-laki
  • Cucu pria dari anak laki-laki
  • Saudara kandung laki-laki
  • Anak pria dari kerabat laki-laki
  • Suami
  • Paman
  • Anak dari paman
  • Laki-laki yang memerdekakan budak

Ahli waris dari golongan perempuan

  • Nenek
  • Ibu
  • Anak perempuan
  • Cucu wanita dari anak laki-laki
  • Saudara kandung perempuan
  • Istri
  • Wanita yang memerdekakan budak

Namun, kalau semua jago waris masih ada, yang berhak memperoleh warisan cuma anak, ayah, ibu, janda, atau duda.

Cara hitung pembagian harta warisan menurut aturan waris agama islam menurut Instruksi Presiden:

  • Anak wanita yang cuma seorang diri berhak sanggup warisan separuh bagian.
  • Anak wanita berjumlah dua atau lebih berhak sanggup dua pertiga bagian.
  • Anak wanita bareng anak pria maka belahan anak pria yakni dua berbanding satu dengan anak perempuan.
  • Ayah memperoleh sepertiga bagi kalau pewaris gak meninggalkan anak. Kalau ada anak, ayah memperoleh seperenam bagian.
  • Ibu memperoleh seperenam belahan kalau ada anak atau dua kerabat atau lebih. Kalau gak ada anak atau dua orang kerabat atau lebih, ia memperoleh sepertiga bagian.
  • Ibu memperoleh sepertiga belahan dari segi sesudah diambil janda atau duda kalau bantu-membantu dengan ayah.
  • Duda memperoleh separuh belahan kalau pewaris gak meninggalkan anak dan kalau pewaris meninggalkan anak, duda memperoleh seperempat bagian.
  • Janda memperoleh seperempat belahan kalau pewaris gak meninggalkan anak dan kalau pewaris meninggalkan anak, janda memperoleh seperdelapan bagian.
  • Kalau seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, kerabat pria dan kerabat wanita seibu masing-masing memperoleh seperenam bagian.
  • Kalau mereka itu dua orang atau lebih, mereka bantu-membantu sanggup sepertiga bagian.
  • Kalau seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah yang mana ia memiliki satu kerabat wanita kandung atau seayah, ia memperoleh separuh bagian.
  • Kalau kerabat wanita tersebut bantu-membantu dengan kerabat wanita kandung atau seayah dua orang atau lebih, mereka bantu-membantu memperoleh dua pertiga bagian.
  • Kalau kerabat wanita tersebut bantu-membantu dengan kerabat pria kandung atau seayah, belahan kerabat pria dua berbanding satu dengan kerabat perempuan.

Selain ketentuan di atas, ada beberapa ketentuan lain yang mesti diperhatikan, seperti:

  • Ahli waris yang belum sampaumur atau gak bisa melakukan hak dan keharusan maka buatnya diangkat wali menurut keputusan Hakim atas ajakan anggota keluarga.
  • Ahli waris yang meninggal lebih dahulu sanggup digantikan anaknya.
  • Bagian jago waris pengganti gak boleh melampaui dari belahan jago waris yang sederajat dengan yang diganti.
  • Anak yang lahir di luar perkawinan cuma memiliki hubungan saling mewaris dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya.

Penyebab seseorang kehilangan hak waris

Hukum waris agama islam juga mengendalikan wacana beberapa hal yang memunculkan seseorang bisa kehilangan hak warisnya, seperti:

1. Berstatus selaku budak

Seseorang yang berstatus selaku budak tidak punya hak untuk mewarisi apapun meski dari saudaranya sendiri. Pasalnya, menurut aturan islam segala sesuatu yang menjadi milik budak akan secara pribadi menjadi milik tuannya juga.

2. Pembunuhan

Hak spesialis waris bisa hilang dikala ia melakukan pembunuhan pada sang pewaris. Misalnya: dikala seorang anak membunuh ayahnya, maka anak tersebut tidak berhak mewarisi harta yang dimiliki sang ayah. 

3. Perbedaan agama

Dijelaskan dalam anutan agama Islam, seorang muslim tidak sanggup mewarisi ataupun diwarisi oleh seorang non-muslim, apapun agamanya. Makara dikala ada anggota keluarga yang berlawanan agama dengan pewarisnya, maka beliau tidak berhak memperoleh warisan.

Ilmu yang mempelajari aturan waris Islam disebut dengan mawaris. Mempelajari ketentuan mawaris yakni keharusan bagi pewaris dan jago waris yang mengedepankan syariat dalam hal pembagian harta warisan keluarga.

Cara hitung pembagian harta warisan secara Islam

Cara hitung pembagian harta warisan menurut aturan Islam menyerupai dicontohkan situs nu.co.id berikut:

Sebuah keluarga berisikan ayah, ibu, nenek dan seorang anak laki-laki. Ketika sang ayah meninggal dunia, bagaimana cara hitung pembagian harta warisannya?

Pertama, tetapkan dahulu semua orang jago warisnya. Lalu hitung bagiannya menurut aturan waris islam. Dalam contoh kasus ini, jago waris yang ditinggalkan yakni istri (dengan anak laki-laki) yang berhak menemukan ⅛ bagian, Ibu ⅙ bagian, dan anak pria menemukan sisanya.

Kemudian, untuk menegaskan angka total bagian, diputuskan nilai yang habis dibagi dengan penyebut belahan yang dimiliki oleh jago waris. Dalam kasus ini, 24 selaku bilangan yang habis dibagi 8 dan 6. Lalu hitung besar belahan yang hendak ditemukan masing-masing jago waris.

Ahli waris Bagian 24
Istri 1/8 3
Ibu 1/6 4
Anak laki-laki sisa 17

Misalnya, total harta higienis yang ditinggalkan ayah tersebut berupa duit senilai Rp120.000.000. Kemudian dibagi 24 sehingga masing-masing belahan bernilai Rp5.000.000.

Jadi, simulasi pembagian harta warisannya yakni selaku berikut ini:

Istri menemukan 3 x Rp5.000.000 =  Rp15.000.000

Ibu menemukan 4 x Rp5.000.000 = Rp20.000.000

Anak pria menemukan 17 x Rp5.000.000 = Rp85.000.000.

Total harta yang dibagikan sebesar Rp120.000.000 (Habis terbagi).

Hukum waris Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata)

Sesuai dengan isi Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), atau populernya disebut juga dengan hukum waris perdata barat, ditegaskan bahwa pembagian harta warisan gres bisa dijalankan kalau terjadi kematian. Makara kalau pemilik harta masih hidup, harta yang dimilikinya tidak sanggup dialihkan lewat legalisasi mekanisme atau ketentuan waris.

Siapa saja yang berhak menjadi jago waris menurut KUHPerdata?

Pasal 832 menyebutkan orang-orang yang berhak menjadi jago waris, yaitu: 

  • Golongan I: keluarga yang berada pada garis lurus ke bawah, yakni suami atau istri yang ditinggalkan, anak-anak, dan keturunan beserta suami atau istri yang hidup lebih lama.
  • Golongan II: keluarga yang berada pada garis lurus ke atas, menyerupai orang bau tanah dan kerabat beserta keturunannya.
  • Golongan III: berisikan kakek, nenek, dan leluhur.
  • Golongan IV: anggota keluarga yang berada pada garis ke samping dan keluarga yang lain sampai derajat keenam.

Berikut ini yakni cara hitung pembagian harta warisan menurut KUH Perdata.

  • Suami atau istri dan belum dewasa yang ditinggal mati pewaris memperoleh seperempat bagian.
  • Kalau pewaris belum punya suami atau istri dan anak, hasil pembagian warisan diberi ke orangtua, saudara, dan keturunan kerabat pewaris sebesar seperempat bagian.
  • Kalau pewaris gak punya kerabat kandung, harta warisan dibagi ke garis ayah sebesar setengah belahan dan garis ibu sebesar setengah bagian.
  • Keluarga sedarah dalam garis atas yang masih hidup berhak menemukan warisan sesuai dengan ketentuan yang besarannya setengah bagian.

Dengan kata lain, urutan jago waris ini dibentuk menurut asas prioritas. Selama Golongan I masih hidup, maka Golongan II tidak sah untuk menemukan warisan di mata hukum. Begitu juga selanjutnya, gres sesudah Golongan I dan II gak ada, maka Golongan III yang berhak menemukan warisan.

Ketentuan penunjukan dan pencoretan jago waris

Walau begitu, tetap ada ketentuan yang memunculkan sebuah pihak dinyatakan selaku jago waris atau dicoret selaku jago waris.

1. Pihak yang menjadi jago waris secara alami
  • Mereka yang ditunjuk sesuai undang-undang, antara lain suami/istri, anak, kakek/nenek, dan yang lain sebagaimana tergolong dalam Golongan I sampai Golongan IV. Hak ini disebut dengan ab intestato.
  • Pihak yang ditunjuk secara khusus selaku jago waris sesuai isi wasiat milik pewaris. Umumnya disebut surat wasiat, surat ini tetap perlu disahkan oleh notaris. Hak ini disebut dengan testamenter.
  • Anak yang masih berada di dalam kandungan. Walau belum dilahirkan, statusnya bisa disahkan pribadi selaku jago waris kalau diperlukan. Hak ini diperkuat oleh ketentuan Pasal 2 KUHPerdata.
2. Pasal 838 KUHPerdata menyatakan pihak-pihak yang hendak dicoret selaku jago waris kalau melakukan langkah-langkah kriminal menyerupai berikut.
  • Melakukan pencegahan untuk mengesahkan atau mencabut surat wasiat.
  • Memalsukan, merusak, atau menggelapkan eksistensi surat wasiat.
  • Berupaya membunuh atau sudah membunuh pewaris.
  • Terbukti bersalah berupaya menghancurkan nama baik pewaris.

Hak-hak yang dimiliki jago waris

Setelah eksistensi jago waris sanggup ditentukan dan disahkan, maka timbullah hak-hak bagi para jago waris tersebut, yaitu:

  • Para jago waris sanggup merekomendasikan pemisahan harta warisan yang sudah dibagikan. Berdasarkan Pasal 1066 KUHPerdata, hal ini sanggup direalisasikan lima tahun sesudah harta waris dibagikan. Namun, hal ini gak wajib dan cuma bersifat kontrak internal di antara para jago waris dengan mengikuti ketentuan aturan yang sah.
  • Suatu pihak dinyatakan secara alami selaku jago waris yang sah yang mana berhak menemukan semua hak warisan berupa harta benda dan piutang dari pewaris. Namun, sesuai Pasal 833 KUHPerdata, jago waris tersebut memiliki hak saisine, yakni hak untuk memikirkan atau menolak menemukan warisan.
  • Ahli waris berhak meminta klarifikasi atau rincian terkait warisan yang diterimanya. Bentuknya bisa dalam pembukuan yang berisi jenis-jenis hak, kewajiban, utang, dan/atau piutang dari pewaris. Permintaan ini yakni belahan dari hak beneficiary sesuai Pasal 1023 KUHPerdata.
  • Ahli waris pertama berhak untuk menggugat jago waris kedua atau pihak terkait yang lain yang menguasai harta warisan yang menjadi belahan dari hak jago waris pertama. Hal ini disebut dengan hak hereditas petitio yang diperkuat oleh Pasal 834 KUHPerdata.

Hukum waris adat

Beragamnya suku di Indonesia tentunya dibarengi dengan beragamnya aturan akhlak yang digunakan untuk menegaskan pembagian harta warisan. Dalam aturan waris adat, seorang ketua atau sosok yang dituakan di dalam suku tersebut biasanya akan dilibatkan dalam proses pembagian harta warisan.

Secara garis besar, aturan waris akhlak di Indonesia terbagi dalam tiga belahan menurut metode kekerabatannya, yaitu:

Sistem patrilineal, yang didasarkan pada garis keturunan pria atau ayah.

Dalam akhlak patrilineal, jago waris yang berhak menemukan peninggalan harta dari pewarisnya yakni anak pria yang terdapat di dalam keluarga. Anak pria pertama biasa menemukan takaran lebih besar dibandingkan adik-adiknya yang juga laki-laki. 

Namun, ada pula metode patrilineal yang pembagian harta warisannya dijalankan secara adil dan merata sesuai jumlah anak pria di keluarga tersebut

Hukum akhlak berdasar metode patrilineal ini bisa kau dapatkan dalam penduduk Tanah Gayo, Alas, Batak, Bali, Papua, dan Timor.

Sistem matrilineal, yang didasarkan pada garis keturunan wanita atau ibu.

Sistemnya nyaris sama dengan patrilineal, cuma saja dalam metode matrilineal cara pembagian harta warisan diutamakan terhadap pihak anak perempuan.

Hukum akhlak berdasar metode matrilineal ini umpamanya terdapat dalam penduduk Minangkabau.

Sistem parental atau bilateral, yang didasarkan pada garis keturunan ayah dan ibu.

Sistem ini paling banyak dianut oleh penduduk akhlak Tanah Air yang tersebar di Jawa, Madura, Sumatra, Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan, Ternate, dan Lombok.

Dengan metode parental, baik anak pria maupun wanita dalam keluarga memiliki hak yang serupa untuk menemukan warisan secara adil dan merata.

Dari 3 aturan waris yang mengatur cara hitung dan syarat pembagian harta warisan di Indonesia ini, kau dan keluarga bisa menegaskan mana yang hendak kau terapkan untuk pembagian harta warisan secara adil. Ketiganya memiliki keistimewaan dan kesesuaiannya masing-masing sesuai apa yang kau anut.

Asuransi jiwa selaku pembagian harta warisan untuk keturunan

Salah satu bentuk alternatif warisan yang dapat diturunkan terhadap jago waris yakni asuransi jiwa unit link. Dengan produk asuransi unit link, dikala seorang pemegang polis meninggal dunia, maka keluarga akan menemukan duit pertanggungan dari faedah perlindungan beserta nilai investasi yang terbentuk.

Sehingga, bila dibandingkan dengan harta warisan menyerupai properti, deposito, dan sebagainya, pemindahan kepemilikan harta warisan memakai asuransi jiwa akan jadi lebih mudah. 

Manfaat atau duit pertanggungan pun akan bisa pribadi diterima oleh akseptor faedah yang ditunjuk tanpa perlu lewat mekanisme aturan waris di Indonesia.

Untuk mengenal lebih jauh wacana cara kerja asuransi unit link selaku alternatif warisan, tempatpinjamuang menawarkan aneka macam isu dan opsi asuransi unit link yang dapat menolong kau menyiapkan warisan. 

Itu tadi isu seputar pembagian harta warisan dan cara hitung harta warisan menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia. Semoga bermanfaat, ya!

Pertanyaan seputar pembagian warisan

Siapa yang berhak membagi harta warisan?Dalam aturan waris Islam, sosok yang diandalkan berhak membagi harta warisan biasanya berasal dari kelompok yang mengetahui ilmu perkiraan pembagian warisan menurut aturan Islam. Bisa juga meminta pemberian terhadap tokoh agama yang mengetahui pembagian warisan dan menemukan keyakinan dari seluruh jago waris.

Berbeda lagi pada aturan waris perdata, notaris bertugas memantau proses pembagian harta warisan utamanya bila sudah ada surat wasiat yang memiliki ketetapan hukum.

Sementara dalam aturan waris adat, orang yang diandalkan membagikan warisan biasanya seorang ketua atau sosok yang dituakan di dalam suku tersebut.

Apakah suami berhak atas harta warisan istri?Dalam aturan Islam, selama masa perkawinan, sekalipun cuma suami yang melakukan pekerjaan mencari nafkah maka istri berhak atas setengahnya dari harta perolehan suami tersebut, begitu juga sebaliknya.

Sehingga dikala istri meninggal, suami memperoleh separuh belahan kalau pewaris tidak meninggalkan anak dan kalau pewaris meninggalkan anak, suami memperoleh seperempat bagian.

Apakah harta warisan yang didapat akan dikenai pajak?Tidak, alasannya yakni harta warisan bukan merupakan objek pajak. Hal ini dikontrol dalam UU PPh No. 36 tahun 2008 Pasal 4 ayat 3. Meski warisan yakni perhiasan kesanggupan irit bagi jago waris, namun dalam hal ini bukanlah objek pajak.Bagaimana kalau utang pewaris lebih besar dari harta warisan?Jika pewaris meninggalkan utang yang lebih besar ketimbang harta warisannya, maka jago waris cuma dibebankan keharusan melunasi utang sebatas harta peninggalan pewaris saja. Ini diterangkan dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 175 ayat 2 yang menyebutkan tanggung jawab jago waris terhadap utang atau keharusan pewaris cuma terbatas pada jumlah atau nilai harta peninggalannya. Ahli waris tidak berkewajiban memakai harta pribadinya untuk mengeluarkan duit utang-utang pewaris.Bisakah jago waris menolak selaku jago waris?Bisa. Pasalnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1045 disebutkan tiada seorang pun yang diwajibkan untuk menemukan warisan yang jatuh ke tangannya. Artinya, seseorang sanggup menemukan maupun menolak hak warisan yang jatuh kepadanya. Jika jago waris yang menolak warisan, maka otomatis dianggap tak pernah jadi jago waris.Tags : , , , ,

Tags: Warisan
rizved al

Recent Posts

3 trik aman baca Chat WA Tanpa Diketahui Oleh Pengirimnya

Sampai saat ini, aplikasi WhatsApp masih menjadi raja layanan berkirim pesan secara online. Hal ini tentu saja karena berbagai fitur…

4 minggu ago

Kepala BKPM Bahlil: Gak Ada Tukang Palak di Investasi RI! – TPMNews

Jakarta, tpmnews - RI terus aktif menggaet investor di sektor industri hilir pertambangan, khususnya untuk mengembangkan industri baterai kendaraan listrik…

4 minggu ago

Jreng! Australia Kini Punya Senjata Nuklir, RI Kasih Respons – TPMNews

Jakarta, tpmnews - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI buka suara mengenai pembentukan AUKUS. Ini adalah aliansi pertahanan baru antara Amerika…

4 minggu ago

Siap-siap! KKP Atur Penangkapan Terukur Mulai 1 Januari 2022 – TPMNews

Jakarta, tpmnews - Pemerintah akan mengeluarkan aturan baru mengenai kuota penangkapan ikan. Nantinya ikan yang ditangkap akan diatur jumlahnya hingga…

4 minggu ago

Murah di Inggris, Brompton Ini Tembus Rp 40 Juta di RI – TPMNews

Jakarta, tpmnews - Harga sepeda Brompton saat ini dibanderol mulai dari Rp 30 jutaan. Harga ini turun dari tahun lalu…

4 minggu ago

Strategi BKMS Kelola 5 Kluster Bisnis di KEK Gresik JIIPE – TPMNews

Jakarta, tpmnews- Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), Bambang Setiono menyambut positif penetapan Kawasan Integrated Industrial Port Estate…

4 minggu ago